Kamis, 27 Oktober 2011

Masih Pantaskah Sirkuit Sepang Gelar MotoGP?

Masih Pantaskah Sirkuit Sepang Gelar MotoGP? | Tewasnya pembalap Honda San Carlo Gresini Marco Simoncelli akibat kecelakaan mengerikan di Sirkuit Sepang, Malaysia, Minggu (23/10/11) masih menimbulkan banyak pertanyaan dan sorotan. Fokus sorotan terutama tertuju soal keamanan dan keselamatan para pembalap.

Pihak penyelenggara Sirkuit Sepang, Malaysia pun menjadi sasaran kambing hitam sejumlah kalangan terkait keamanan pihak panitia dalam mempersiapkan balapan. Sirkuit yang dibuka tahun 1999 silam ini memiliki tikungan – tikungan cukup tajam dan saat menghelat seri ketujuh belas kemarin kelembaban lintasan cukup tinggi.
Dugaan pun muncul Simoncelli tewas karena tim medis kurang sigap dan cepat mengevakuasi rider asal Italia itu saat tergeletak di tengah lintasan setelah dilindas Valentino Rossi dan Colin Edwards.

Tim Medis kemudian membawa Simoncelli ke ruang perawatan, dimana saat dibawa ke ruang medis Simoncelli masih sadar. Namun, berselang 45 menit kemudian Simoncelli dinyatakan tewas, andai tim medis lebih cepat mungkin nyawa Super Sic bisa terselamatkan.

Sebelum memakan korban, pembalap Ducati, Valentino Rossi, sebenarnya sudah mengeluhkan sirkuit Sepang. Dia menyebut kondisi trek Sepang kali ini lebih berbahaya dibandingkan tahun lalu.

“Kondisi trek sangat berbeda. Bahkan lebih buruk dibandingkan saat kami melakukan uji coba pada musim dingin lalu,” kata Rossi.

Saat menempati posisi ke-10 dan 13 di sesi I dan II pada latihan bebas, Jumat, 21 Oktober, Rossi mengeluhkan buruknya lintasan sehingga mempengaruhi performa motor Ducati yang ia tunggangi.

“Aspal terasa sangat licin. “Saya pun tak bisa cepat di tikungan,” keluhnya.

Pernyatan dari Rossi yang tentunya sudah kenyang pengalaman di MotoGP sedikit menggambarkan betapa ‘buruknya’ sirkuit yang dibangga – banggakan masyarakat negeri Jiran tersebut. Rossi pun seakan ingin mengungkapkan jika sirkuit dengan nama resmi Sepang International Circuit tersebut berbahaya dan otoritas tertinggi MotoGp semestinya berpikir dua kali untuk menunjuk sirkuit ini menghelat balapan sekelas MotoGp.

Sebuah catatan negatif juga terpapar seperti dilaporkan surat kabar beken Indonesia yang menuliskan bahwa para penonton yang didominasi warga Malaysia melemparkan botol dan kaleng ke sirkuit karena tidak sabar menunggu penundaan MotoGp setelah kecelakaan.

Hal itu secara tak langsung mencerminkan sikap ‘bodoh’ dan kurang dewasanya para penonton yang sebagian besar warga Negeri Jiran. Sikap mereka semakin memperburuk citra Malaysia di mata dunia.

Simoncelli menjadi korban tewas atau ‘tumbal’ pertama di sirkuit Sepang. Pertanyaan pun muncul, masih layakkah sirkuit yang berada di Malaysia ini menggelar balapan ajang balap motor dan balapan lainnya di masa mendatang setelah memakan korban tewas yang memunculkan dugaan meninggal karena disebabkan faktor buruknya kinerja panitia penyelanggara balapan?.

Demi mencegah agar tidak ada lagi kisah tragis seperti yang dialami Simoncelli di Sepang, apakah lebih baik otoritas tertinggi MotoGp “mem -PHK- ” sirkuit Sepang di tahun – tahun mendatang?

Simoncelli Tak Dapat Pertolongan Pertama yang Baik

Petugas keselamatan di Sirkuit Sepang dapat kritik tajam menyusul kecelakaan yang merenggut nyawa Marco Simoncelli. Pembalap asal Italia itu dianggap tak mendapat pertolongan pertama yang baik.

Kontroversi terkait kematian Simoncelli merebak menyusul mulai terkuaknya rekaman video atau foto-foto yang diambil beberapa saat setelah kecelakaan maut tersebut. Yang yang muncul ke permukaan, khususnya di Italia, adalah penanganan terhadap pembalap kribo itu setelah dia dihantam motor Colin Edwards dan Valentino Rossi.

Pada Senin (24/10/2011) kemarin, surat kabar terbitan Italia La Repubblica memuat surat seorang ahli penyelamatan bernama Fabio Venturi yang intinya mempertanyakan buruknya pertolongan pertama yang diberikan petugas pada Simoncelli.

Salah satu yang diamati Venturi adalah saat tubuh Simoncelli dipindahkan ke tandu dan diangkat ke pinggir lintasan. Saat itu dia menyebut kalau tubuh Simoncelli lebih terlihat seperti diseret ketimbang diangkat oleh petugas. Dalam beberapa foto memang terlihat kalau tubuh Simoncelli tak sepenuhnya berada di atas tandu dan tandu seperti diangkat dengan sembarangan.

Proses pengangkatan tubuh Simoncelli ke atas tandu juga dinilai terlalu sembrono. Padahal itu harusnya dilakukan secara hati-hati agar jika ada cedera leher diderita itu tak akan memperparah kondisi sang pembalap.

“Dia dipindahkan ke atas tandu dengan cara yang tidak seharusnya dan tak sesuai dengan standar keselamatan. Dalam kecelakaan seperti ini, ambulance harusnya masuk ke lintasan dan mendatangi Simoncelli,” tulis Vanturi.

Pada kenyataannya petugas kesehatan harus menggotong tubuh Simoncelli cukup jauh untuk bisa sampai ke mobil ambulance. Bahkan ayah Simoncelli, yang datang ke titik lokasi menggunakan skuter, sampai ikut membantu mengangkat tubuh anaknya ke dalam ambulance. Demikian dikutip dari Marca.

“Berdasarkan protokol, seharusnya kondisi pembalap diperiksa dan dipindahkan dengan sangat berhati-hati dengan memperhatikan pergerakan lehernya. Metode yang digunakan untuk memindahkan Marco tidak tepat dan berbahaya. Saya pribadi bahkan tak akan menggunakannya (bahkan) saat memindahkan sekarung kentang,” lanjut Vanturi.
 
Tampak pojok kanan, ayah Simoncelli menghampiri lokasi kecelakaan anaknya menggunakan skuter

0 comments:

Posting Komentar